Frank Lampard Lebih OK daripada Ole Gunnar Solskjaer, Ini Faktanya !

LigaBola1.com – Chelsea dan Manchester United, kedua klub tersebut ternyata punya kesamaan yaitu dilatih oleh legenda klub masing-masing. Chelsea saat ini dilatih oleh Frank Lampard sementara MU ditangani oleh Ole Gunnar Solskjaer. Frank Lampard lebih ok daripada Ole Gunnar Solskjaer, ini faktanya !

Baca juga : MU Oh MU, Ada yang Aneh Pada Dirimu !

Frank Lampard Lebih Ok daripada Ole Gunnar Solskjaer, Ini Faktanya !

Frank Lampard direkrut Chelsea pada musim panas lalu untuk menggantikan Maurizio Sarri yang hengkang ke Juventus. Sementara Solskjaer masih dipertahankan The Red Devils setelah menggantikan Jose Maurinho pada Desember 2018 lalu.

Kedua klub besar di Premier League ini termasuk klub keren dengan prestasi yang yahud. Namun sayang, di musim ini nasib MU tak seberuntung Chelsea. Pun demikian dengan para managernya. Lampard dinilai lebih bisa berkembang bersama Chelsea sementara Solskjaer bisa dibilang gagal. 

Dilansir dari Fox Sports Asia, ada beberapa fakta yang membuktikan bahwa legenda Chelsea tersebut lebih berkualitas dibanding Solskjaer.

Taktik Lebih Bervariasi

Moment dimana MU berhasil menjebol gawang Chelsea sebanyak empat kali di Old Trafford dan The Blues berhasil dikalahkan The Red Devils pada hari pembukaan musim, menjadi moment yang tak terlupakan kala itu.

Namun kini, di musim ini, kondisinya bertolak belakang dengan moment tersebut. Chelsea terus meraih hasil positif sementara MU harus terpuruk di papan tengah klasemen Liga Inggris.

Salah satu yang menjadi faktor bangkitnya Chelsea adalah gaya melatih Lampard yang melakukan pendekatan secara taktis. Dia diketahui melakukan eksperimen beberapa formasi di pra musim yakni 4-2-1-2, 4-3-3, dan 4-2-3-1. Namun pada hari pembukaan saat melawan Leicester City, Lampard lebih memilih menggunakan 4-2-3-1 dan menunjuk Mason Mouth sebagai pusat serangan. 

Namun, mantan gelandang Timnas Inggris itu tidak mau timnya didikte formasi. Lampard menunjukkan flesibilitasnya. Dia menggunakan taktik 4-3-3 saat melawan Wolves dengan tiga pemain belakang. Dan hasilnya, Chelsea menang dengan lima gol. Skema 4-2-3-1 dan 4-3-3 seakan ‘paten’ menjadi formasi wajib bagi Chelsea karena terbukti efektif melawan berbagai musuh.

Hal ini beda dengan Solskjaer, dia dikenal kaku dalam menentukan skema bermain. Pelatih asal Norwegia itu selalu menggunakan skema 4-2-3-1 dengan Paul Pogba dan Scott McTominay sebagai poros serangan. Meskipun hasilnya buruk dia menolak untuk merubah skema itu.

MU sempat beberapa kali memainkan skema 3-5-2 dan terbukti bisa meraih hasil positif. Namun entah kenapa, Solskjaer kemudian memutuskan kembali ke skema 4-2-3-1 saat melawan Bournemouth, dan hasilnya bisa ditebak. MU kalah lagi.

Lebih Friendly dengan Pemain

Saat Chelsea melakukan laga tandang ke markas Ajax di Johan Cruyff Arena Amsterdam Belanda pada kualifikasi Grup H Liga Champions Sabtu (23/10/2019), Michy Batshuayi menjadi pahlawan untuk Chelsea berkat gol semata wayangnya. Lampard pun tak segan memeluknya.

Larangan transfer yang dijatuhkan kepada Chelsea membuat Christian Pulisic menjadi satu-satunya pemain baru di musim ini. Namun beberapa kali Pulisic menunjukkan penampilan yang kurang bagus, hal ini membuat Frank Lampard menaruhnya ke bangku cadangan. Dan parahnya, Lampard malah mencoretnya dari daftar pemain saat pertandingan di Liga Champions melawan Lille.

Namun saat Chelsea melawan Southampton, Lampard memberi kepercayaan kepada Pulisic untuk tampil. Hasilnya ternyata tak mengecewakan, dia mencetak satu assist dan menandai kebangkitannya.

Penampilannya yang apik tersebut membuat Lampard memasukkannya ke tim utama saat melawan Ajax, dan hasilnya juga bagus. Tak disangka-sangka Pulisic tampil sempurna saat Chelsea bertanding melawan Burnley, Pulisic berhasil mencetak hat-trick.

Tak hanya Pulisic, Jorginho dan Mateo Kovacic juga merasakan ‘sentuhan dingin’ tangan Lampard. Kedua pemain ini diberi kebebasan untuk mengembangkan permainannya. Hasilnya bisa ditebak, mereka juga tampil bagus seperti Pulisic. Pun demikian dengan Willian, pemain sayap ini baru-baru ini dinominasikan untuk penghargaan Pemain Terbaik Bulan Oktober.

Solskjaer hingga kini belum mendapatkan performa terbaik timnya. Fred, Andreas Pereira, Juan Mata dan Jesse Lingard masih tampil mengecewakan. Diperparah lagi dengan cedera yang diderita beberapa pemain andalan MU saat ini. Skuat ‘tipis’ ini membuat Setan Merah kesulitan untuk naik ke papas atas klasemen Liga Inggris.

Pintar Memaksimalkan Bakat Muda

Di bawah asuhan Lampard, Chelsea berkembang karena dibangun di atas talenta akademi. Setelah kepergian Eden Hazard, Lampard kemudian merekrut Mason Mount, Fikayo Tomori, dan Tammy Abraham. Ketiga pemain muda itu memiliki banyak pengalaman di tim utama, setelah membuat lebih dari seratus penampilan selama masa peminjaman.

Di MU, pasca kepergian Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez membuat Mason Greenwood harus masuk lebih cepat ke dalam tim utama. Masih berusia 17 tahun dan minus pengalaman membuat Greenwood terlihat kesulitan menyesuaikan diri dengan liga sepenuhnya, meskipun dia telah menunjukkan skill bakatnya.

Brandon Williams, James Garner, dan Angel Gomes juga telah diberi kesempatan. Tetapi penampilan mereka sebagian besar hanya terbatas pada kompetisi piala. Solskjaer belum menggunakan jasa mereka di level liga.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Eden Hazerd : Frank Lampard Salah Satu Manager Terbaik Dunia - Liga Bola 1
  2. MU Bukukan Utang Bersih Rp 7 Triliun ! - Liga Bola 1

Tinggalkan Balasan